Ketika Anak Aceh Bertukar Cerita dengan Anak Jepang Soal Gempa dan Tsunami

49
Ketika Anak Aceh Bertukar Cerita dengan Anak Jepang Soal Gempa dan Tsunami
Ketika Anak Aceh Bertukar Cerita dengan Anak Jepang Soal Gempa dan Tsunami

ZonaNKRI – Aceh memperkenalkan kepada anak tentang bencana dan mitigasi bencana penting. Namun sarana prasarana yang mendukung masih sangat kurang.

Oleh Aceh -Japan Community Art Consortium, kebekuan itu diretas melalui Chikyuu Taiwa Labo, sebuah wadah, yang memperkenalkan anak-anak Aceh tentang bencana dan mitigasi bencana dengan memanfaatkan sarana komunikasi global Skype.

Melalui Chikyuu Taiwa Labo, anak-anak Sekolah Dasar (SD) di Aceh berkomunikasi dan saling berbagi dengan anak-anak setingkat SD di Tohoku, Jepang bagian Utara, sebuah wilayah terdampak gempa dan tsunami pada 2011 silam.

Chief Representative Aceh -Japan Community Art Consortium, Panlima mengatakan, Chikyui Taiwa Labo punya peran penting dalam mengajarkan anak-anak SD di Aceh tentang apa yang terjadi di tempat mereka pada 26 Desember 2004 silam.

Generasi Sekolah Dasar (SD) sekarang kan kebanyakan tidak tahu bencana tsunami di Aceh seperti apa. Mereka hanya tahu tentang bencana dari cerita-cerita orang tua. Tapi mereka tidak pernah tahu bagaimana orangtuanya berjuang dalam bencana tersebut,kata Panlima.

Menurut dia, cara menambah wawasan soal bencana, bisa melalui berbagi cerita sesama anak pula. Anak-anak SD di Aceh yang tidak mengalami gempa – tsunami yang terjadi 13 tahun silam di Aceh, bisa belajar dari anak-anak Tohoku.

Seperti diketahui, pada 11 Maret 2011 lalu, Jepang, tepatnya Tohoku diguncang gempa berkekuatan 9.0 magnitudo yang menyebabkan tsunami. Diperkirakan 15.269 tewas, 5.363 luka, dan 8.526 hilang di enam prefektur.

Melalui Chikyuu Taiwa Labo, komunikasi keduanya tidak spesifik bercerita soal bencana yang mendera daerah tempat mereka tinggal, namun dibingkai dengan beragam cerita soal hal-hal menarik antarkedua wilayah, misalnya mengenai kebudayaan.

Ini kita bimbing dalam bentuk kebudayaan, misal, Jepang itu seperti apa sih, apa betul anak-anak di Aceh makan pakai tangan, apa betul anak-anak di Jepang makan pakai sumpit, ujarnya.

Dengan begitu, anak-anak akan berada pada titik yang menuntut mereka untuk saling berbagi, sama-sama mempelajari, dan menggali lebih dalam tentang peristiwa yang pernah terjadi di lingkungan masing-masing.

Kita ingin mengajak anak-anak di Aceh mengetahui yang terjadi di Aceh, sehingga wilayah mereka jadi pembicaraan, sehingga ada hari yang setiap 26 Desember dijadikan sebagai hari peringatan, jelas dia.

Sejak September lalu, komunikasi melalui Chikyuu Taiwa Labo atau The labolatory for the global dialogue sudah dilakukan beberapa kali, antara SD Negeri 31 Banda Aceh dengan Kitakata Elementary School, Miyagi, dan SD Negeri Lambirah dengan Miyanomori Elementary School, Miyagi.

Januari 2019 SD Negeri 31 Banda Aceh akan kembali melakukannya dengan Yotsukura Elementary School, Fukushima. Sebelumnya, kegiatan serupa akan berlangsung bertepatan dengan momen di Museum Tsunami Aceh pada tanggal 16 sampai dengan 26 Desember ini.

Ragam kegiatan tersebut dibantu pula sejumlah mahasiswa yang saat ini sedang fokus mempelajari bahasa dan budaya Jepang.

Namun, kegiatan ini boleh dikatakan dilakukan sporadik, terkadang ada schedule ekstra yang diinisiasi adik-adik mahasiswa dan anak-anak sekolah menengah yang baru tamat, sebutnya.

Chikyuu Taiwa merupakan lembaga non-profit menyelenggarakan kegiatan yang menghubungkan kedua lokasi, Aceh dan Jepang melalui Project Kerjasama Antara Wilayah Bencana Aceh, Indonesia dan Tohoku.

Pada tahun 2017, kegiatan ini berkembang dan berubah nama menjadi ‘Aceh-Japan Community Art Project’ . Kegiatan ini berjalan bersamaan seiring dengan didirikannya Aceh Community Art Consortium di Aceh.

Kalau bicara tentang seni, maka pasti yang akan terbayang adalah lukisan atau pahatan. Akan tetapi, seni yang kami lakukan adalah seni dengan makna yang lebih luas, kata Chief Representative Aceh -Japan Community Art Consortium, Panlima.

Melalui itu, pihaknya bekerjasama dengan berbagai pihak, mencoba menghubungkan para penyintas tidak hanya melalui kisah buram tentang bencana, meski bertujuan untuk itu, namun, karena seni dianggap menjadi wadah universal, maka seni dipilih menjadi jembatan penghubung antara kedua lokasi yang sama-sama pernah diterpa musibah gempa dan tsunami tersebut.

Jadi kita tidak berbicara teknis bagaimana gempa dan tsunami terjadi, tapi kita membingkai dalam seni budaya dan kearifan lokal, bagaimana generasi selanjutnya tidak lupa akan bencana tersebut, dan mereka siap dan tahu apa yang harus dilakukan, seandainya bencana terjadi. Ya, sedikit banyak, kita belajar dari Simeulue, dengan nandong atau nyanyian smong-nya, sebut Panlima.

BACA JUGA : Perjuangan Seorang Wanita Tuli yang Mencari Kerja Meski Sudah Ditolak Seribu Kali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here